Inibukan dongeng atau semacam cerita pengantar tidur. Menanam pohon tapi hasil panennya berupa air telah terbukti di kecamatan Turi, tepatnya di dusun Tegalpanggung. Lahan bekas penambangan tradisional disulap menjadi lahan yang ijo royo-royo dengan tanaman buah-buahan, kayu, dan tanaman konservasi penyimpan air. Usaha dan semangat KTH Harga Pohon Mangga Harum Manis Siap Buah Tinggi 1.5 Meter.Rp100.000: Harga: Bibit Pohon Mangga Indramayu 60cm - Buah Dermayu Indra MayuRp40.000: Harga: Bibit Mangga Gedong Gincu Pohon Mangga Bibit Buah Mangga Gedong GincuRp9.900: Harga: Pohon Mangga Chokanan Tinggi 1,6 Meter Siap BuahRp75.000: Data diperbaharui pada 4/8/2022 AndheAndhe Lumut is a folktale that derived from many versions of Panji tales. Andhe Andhe Lumut is the popular one amongst Indonesian, especially Javanese cultures. In popular culture, there are Iakembali mengambil kerikil dan melemparkannya ke pohon jambu. Alhasil, jambu-jambu itu pun banyak berjatuhan. Tara menjadi sangat senang, ia bisa makan buah jambu sepuasnya. Ia makan sampai kenyang hingga ia tertidur di bawah pohon jambu. Dalam tidurnya, Tara bermimpi sedang berada di suatu tempat yang penuh dengan pohon jambu. Rumahrumah di desamu cenderung memiliki halaman luas dengan banyak tanaman bahkan pohon besar di bagian depan. Berjarak dari rumah satu ke rumah lainnya, bukan menempel bersekat selapis dinding saja. Pohon mangga, jambu, palem, bahkan pohon kelapa tumbuh bebas menghijau. Bahkan dijadikan penanda rumah seseorang. Vay Tiền Nhanh Ggads. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. SinopsisCerpen ini mengisahkan pohon Mangga dan pohon Ara. Di hutan yang rimbun mereka hidup berdampingan tetapi tidak hidup rukun. Mereka mempunyai buah yang sangat lebat. Pohon Mangga mempunyai sifat baik kepada siapapun baik pohon disekitarnya termasuk si pohon Ara dan kepada hewan yang hinggap di ranting pohonnya. Pohon Mangga senantiasa juga mempersilakan siapa saja yang hinggap di rantingnya. Kebalikan dari pohon Mangga, pohon Ara mempunyai sifat yang sombong dan bersikap tidak baik kepada si pohon Mangga, dan membiarkan hewan yang lain hinggap di rantingnya. Burung dan lebah dianggapnya berisik ketika bernyanyi di ranting pohonnya lalu mengusirnya dan memerintahkan mereka bernyanyi di atas pohon Mangga. Mereka yang mau membuat tempat tinggal pun di atas ranting selalu pohon Ara marahi karena dianggap merusak daunnya yang hijau, rimbun dan mempunyai pohon yang tinggi berbeda dari pohon yang lainnya tidak mempunyai daun yang rimbun, pohon pendek dan lainnya sebagainya tidak seperti si pohon Ara. Angin juga pernah dimarahi oleh si pohon Ara karena menghembuskan udara di pohonnya dengan alasan merusak daunnya yang rimbun dan rantingnya yang kuat. Tetapi angin tidak menanggapinya malah memberikan nasehat kepadanya agar berbuat baik kepada pohon, hewan, dan yang lainnya. Di sisi lain si pohon Mangga hidup bahagia dan penuh tawa bersama pohon yang lainnya, angin dan bernyanyi riang bersama burung, serta lebah yang mampir maupun yang membuat rumah di atas rantingnya. Meskipun pohon Ara selalu cuek kepadanya namun si pohon Mangga tidak benci kepada pohon Ara. Bahkan setiap hari dia menyapanya walaupun bersikap cuek mengabaikan sapaan dari si pohon Mangga. Suatu hari ada 2 orang pembalak liar masuk hutan untuk menebang pohon. Dia melihat ada pohon sebagai saran untuk ditebang. 1 2 3 4 5 6 Lihat Cerpen Selengkapnya 0% found this document useful 0 votes2K views4 pagesDescriptionKisah Dongeng Pohon Tomat dan pohon ManggaCopyright© © All Rights ReservedAvailable FormatsDOCX, PDF, TXT or read online from ScribdShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes2K views4 pagesKisah Pohon Tomat Dan Pohon ManggaJump to Page You are on page 1of 4 Kisah Pohon Tomat dan Pohon Mangga Alkisah di suatu negeri tumbuhan, tinggalah dua pohon yang bersahabat dekat. Sejak kecil mereka bermain bersama setiap harinya. Ya, Pohon Tomat dan Pohon Mangga bersahabat dekat. Mereka bukan hanya bermain bersama, tetapi juga sering saling curhat tentang keadaan masing-masing. Setelah mereka betumbuh, Pohon Tomat dan Pohon Mangga tidak bisa bermain bersama-sama lagi. Hal ini dikarenakan Pohon Tomat tidak bisa mengikuti pertumbuhan Pohon Mangga. Pohon Tomat yang kalah tinggi dan besar dibandingkan Pohon Mangga akhirnya merasa minder melihat dirinya. Perbedaan tinggi dan besar Pohon Tomat dan Pohon Mangga membuat persahabatan mereka menjadi renggang. Pohon Tomat tidak bisa menerima keadaannya yang kalah tinggi dan besar dibandingkan Pohon Mangga. Dia merasa bahwa Tuhan tidak adil. Dia ingin tinggi dan besar seperti Mangga. Pada suatu hari Tomat bangun dan menyadari ada yang berubah dalam tubuhnya. Dia pun melihat bahwa ternyata dia sudah berbuah. Ada buah-buah kecil yang tumbuh di ujung ranting-rantingnya. Pohon Tomat dengan bangganya menemui Pohon Mangga dan memamerkan buahnya. Pohon Mangga yang memang belum waktunya berbuah pun iri dengan buah yang tumbuh di Pohon Tomat. Pohon Mangga sedih karena dia tidak memiliki buah. Kesedihan yang akhirnya membuat dia mengurung diri. Hari berganti hari, Pohon Tomat akhirnya berbuah dengan lebatnya. Pohon Mangga yang melihat di kejauhan tetap dalam kesedihannya. Dia hanya meratap nasibnya yang tidak memiliki buah. Dia masih berharap bisa cepat memiliki buah supaya bisa pamer dengan Pohon Tomat. Akhirnya Pohon Tomat memiliki buah yang ranum dan siap dipetik. Akhirnya buah di Pohon Tomat dipetik oleh manusia tanpa meninggalkan satu buah pun. Pohon Tomat dengan bangga merasa senang bahwa dirinya telah memberikan manfaat bagi manusia. Pohon Mangga yang masih mengurung diri di kamar tiba-tiba mendengar berita yang menyedihkan. Pohon Tomat yang adalah sahabat karibnya telah mati. Pohon Mangga yang penasaran akhirnya bertanya kepada Pohon Beringin Tua, pohon tua yang bijaksana. Usia pohon ini sudah ratusan tahun dan punya pengetahuan yang luas. "Pohon Tomat memang cepat menghasilkan buah. Namun, usianya hanya sampai dia berbuah. Setelah dipanen buah-buahnya, maka Pohon Tomat akan mati. Usianya tidak lebih dari 5 bulan." Kata Pohon Beringin Tua menjawab pertanyaan Pohon Mangga. "Lalu mengapa aku belum berbuah juga?? Tanya Pohon Mangga penasaran. "Kamu itu memang lama baru bisa berbuah. Pada usia 4 atau 5 tahunlah dirimu baru berbuah. Usiamu juga bisa bertahan lama sampai puluhan tahun." Terang Pohon Beringin Tua. "Kamu harus bisa menerima dirimu apa adanya. Pohon Mangga tetap adalah Pohon Mangga, begitu juga dengan Pohon Tomat tetap adalah Pohon Tomat. Temanmu Pohon Tomat juga pernah iri melihat tubuhmu yang tinggi dan besar, setelah dijelaskan dia tetap tidak mau menerima. Sekarang tergantung dirimu apakah mau menerima atau tidak keadaan dirimu." Kata Pohon Beringin Tua menambahkam. "Berapa Pohon yang bertanya akan hal ini??" Tanya Pohon Mangga seraya berbisik. "Semua Pohon." Kata Pohon Beringin Tua. Pohon Mangga akhirnya pulang dengan pemahaman baru dalam hidupnya. Dia tidak lagi iri dengan keadaan pohon-pohon lain yang punya kelebihan dibandingkan dirinya. Karena setiap pohon ternyata punya kekurangan masing-masing juga. Tetapi yang lebih penting, Pohon Mangga disadarkan bahwa setiap pohon diciptakan berbeda satu dengan yang lainnya. Kita harus bangga dengan keadaan diri kita apa adanya. KISAH SI POHON APEL DAN SI CACING Illustrasi agus karianto Saat pagi buta ketika matahari belum menampakkan sinar kehangatannya, nampak seekor cacing berjalan-jalan di sela-sela akar pohon apel. Dia bergerak ke kiri dan ke kanan. Berkali-kali kepalanya membentur akar pohon apel. Hal ini membuat pohon apel terbangun karena tidurnya terganggu. Dan tanpa pikir panjang, benda yang mengganggu akarnya dilemparkan jauh-jauh. "Wushhhhh..." Dan si cacing terkejut karena tubuhnya tiba-tiba melayang ke udara dan jatuh ke atas tanah. "Aughh....sakiiit! Sialan, pagi-pagi tubuhku sudah dilemparkan pohon apel!" teriak si Cacing. "Dasar apel sialan! Tubuhku jadi sakit, nih!" "Ooo jadi kamu yang mengganggu tidurku, ya?!" bentak pohon apel. "Rasain tuh! Memangnya ngapain kamu pagi-pagi sudah mengganggu tidurku ? Kini aku jadi tidak bisa tidur lagi, khan !" "Tapi....badanku jadi sakit semua, Pel! Awas ya... kamu harus bertanggung jawab kalau tubuhku sampai patah tulang." "Hihihihi....Lalu, maumu apa, Cing?" "Pokoknya aku minta keadilan. Aku minta ganti rugi....ganti rugi....." "Lho, kamu yang salah kok aku yang dimintai ganti rugi? Mana ada ceritanya di dunia ini yang salah mendapat ganti rugi atas kesalahannya sendiri?" Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Palti Hutabarat No. Peserta 171 Alkisah di suatu negeri tumbuhan, tinggalah dua pohon yang bersahabat dekat. Sejak kecil mereka bermain bersama setiap harinya. Ya, Pohon Tomat dan Pohon Mangga bersahabat dekat. Mereka bukan hanya bermain bersama, tetapi juga sering saling curhat tentang keadaan masing-masing. Setelah mereka betumbuh, Pohon Tomat dan Pohon Mangga tidak bisa bermain bersama-sama lagi. Hal ini dikarenakan Pohon Tomat tidak bisa mengikuti pertumbuhan Pohon Mangga. Pohon Tomat yang kalah tinggi dan besar dibandingkan Pohon Mangga akhirnya merasa minder melihat dirinya. Perbedaan tinggi dan besar Pohon Tomat dan Pohon Mangga membuat persahabatan mereka menjadi renggang. Pohon Tomat tidak bisa menerima keadaannya yang kalah tinggi dan besar dibandingkan Pohon Mangga. Dia merasa bahwa Tuhan tidak adil. Dia ingin tinggi dan besar seperti Mangga. Pada suatu hari Tomat bangun dan menyadari ada yang berubah dalam tubuhnya. Dia pun melihat bahwa ternyata dia sudah berbuah. Ada buah-buah kecil yang tumbuh di ujung ranting-rantingnya. Pohon Tomat dengan bangganya menemui Pohon Mangga dan memamerkan buahnya. Pohon Mangga yang memang belum waktunya berbuah pun iri dengan buah yang tumbuh di Pohon Tomat. Pohon Mangga sedih karena dia tidak memiliki buah. Kesedihan yang akhirnya membuat dia mengurung diri. Hari berganti hari, Pohon Tomat akhirnya berbuah dengan lebatnya. Pohon Mangga yang melihat di kejauhan tetap dalam kesedihannya. Dia hanya meratap nasibnya yang tidak memiliki buah. Dia masih berharap bisa cepat memiliki buah supaya bisa pamer dengan Pohon Tomat. Akhirnya Pohon Tomat memiliki buah yang ranum dan siap dipetik. Akhirnya buah di Pohon Tomat dipetik oleh manusia tanpa meninggalkan satu buah pun. Pohon Tomat dengan bangga merasa senang bahwa dirinya telah memberikan manfaat bagi manusia. Pohon Mangga yang masih mengurung diri di kamar tiba-tiba mendengar berita yang menyedihkan. Pohon Tomat yang adalah sahabat karibnya telah mati. Pohon Mangga yang penasaran akhirnya bertanya kepada Pohon Beringin Tua, pohon tua yang bijaksana. Usia pohon ini sudah ratusan tahun dan punya pengetahuan yang luas. "Pohon Tomat memang cepat menghasilkan buah. Namun, usianya hanya sampai dia berbuah. Setelah dipanen buah-buahnya, maka Pohon Tomat akan mati. Usianya tidak lebih dari 5 bulan." Kata Pohon Beringin Tua menjawab pertanyaan Pohon Mangga. "Lalu mengapa aku belum berbuah juga?? Tanya Pohon Mangga penasaran. 1 2 Lihat Dongeng Selengkapnya Di salah satu bagian hutan Kalimantan, sebatang pohon jati masih berdiri kokoh diantara beberapa jenis pohon yang tersisa. Raut wajah pohon jati tampak murung. “Cuit cuit cuit…!” suara burung pipit datang dan bertengger pada ranting pohon jati itu. “Kenapa kau tampak murung teman?” tanya Burung Pipit. “Aku sedih segerombolan manusia sudah menebang semua teman-temanku. Sekarang pohon jati yang tersisa hanya aku,” jawab Pohon Jati sedih. “Mengapa mereka menebang teman-teman mu?” tanya si Burung Pipit. “Karena badan pohon jati yang kuat ini menghasilkan banyak manfaat untuk kehidupan manusia sehari-hari. Mereka mengubahku menjadi berbagai macam perlengkapan rumah,” jawab Pohon Jati putus asa. “Tetapi, para manusia itu tidak memikirkan kelanjutan hidup dari pohon-pohon jati dan juga pohon-pohon lainnya di hutan ini. Karena hutan ini sekarang telah menjadi gundul.” Sejenak suasana mejadi hening. “Lihat disana!!” tiba-tiba terdengar suara manusia mengejutkan pohon jati dan burung pipit. Ternyata sekelompok anak dan satu orang dewasa datang menghampiri ke arah pohon jati. Pohon jati dan burung pipit ketakutan. Pohon jati lalu berpikir, apakah dirinya juga akan bernasip seperti teman-temannya? “Ini dia, pohon jati seperti gambar yang ditunjukkan ibu guru,” ujar Una salah seorang anak. “Tetapi mengapa pohon jati ini hanya ada satu di hutan yang luas ini?” lanjutnya keheranan. “Coba kamu lihat di sekeliling pohon jati ini,” tangan ibu guru lalu menunjuk-nunjuk kearah lahan bekas pohon-pohon jati lainnya yang telah ditebang. “Pada awalnya jumlah pohon jati di sini banyak. Tapi segelintir manusia yang tidak bertanggung-jawab lalu menebang pohon-pohon tersebut tanpa menggantinya dengan bibit pohon yang baru,” sambung ibu guru. “Jadi mereka sama saja merusak tempat tinggal hewan-hewan di hutan ini ya bu?” seru Nino. “Iya benar. Dan bukan itu saja, para penebang itu juga telah merusak hutan sebagai paru-paru bumi. Karenanya hutan menjadi gundul. Maka dari itu kita hari ini kan menanam bibit-bibit pohon jati di hutan yang gundul ini,” ujar ibu guru. Mendengar perkataan ibu guru tersebut, si pohon jati merasa bahagia. Ternyata masih ada manusia yang perduli dengan alam sekitarnya. “Ayo kita tanam, agar pohon jati ini memiliki teman,” seru Una dengan semangat. “Iya, ayo-ayo segera kita tanam, agar hewan-hewan disini kembali memiliki tempat tinggal yang layak,” timpal Nino menyemangati teman-temannya yang lain. Satu persatu bibit pohon jati pun mulai ditanam. Si pohon jati dan burung pipit pun merasa bahagia melihat para manusia itu menanami kembali lahan hutan yang telah gundul dengan bibit-bibit pohon baru. * Penulis Majdina Pendongeng Paman Gery paman_gery Ilustrasi Regina Primalita Ada beragam cerita dongeng tentang tumbuhan yang menarik tuk kamu baca. Salah satunya adalah dongeng Akar dan Anak Daun yang kisahnya telah kami paparkan di artikel ini. Yuk, baca langsung saja! Selain menonton film dan bermain game, membaca dongeng juga bisa kamu jadikan pilihan kegiatan untuk mengisi waktu luang. Bila ingin membaca dongeng anak tentang tumbuhan, kamu bisa membaca cerita Akar dan singkat, dongeng ini mengisahkan tentang sebuah pohon yang teramat rindang di padang rumput. Lalu, ada seorang Daun yang mengatakan bahwa pohon tersebut sangatlah rindang berkat konflik seperti apakah yang terjadi di artikel ini? Daripada penasaran, mending simak langsung saja dongeng anak tentang Akar dan Daun beserta ulasan seputar unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya. Selamat membaca! Pada zaman dahulu, di sebuah padang rumput yang sangat panas, ada sebuah pohon yang tumbuh rindang dan sangat cantik. Pohon itu mempunyai dedaunan yang lebat dan berwarna hijau muda. Tak ayal bila banyak hewan yang sering berteduh di bawah pohon tersebut. Burung-burung pun merasa senang dan berkicau merdu saat bertengger di dahan pohon tersebut. “Wah, berkat pohon ini, aku bisa merasakan kesejukan di padang rumput yang sangat gersang ini. Dedaanannya sangatlah rimbun, membuat angin berhembus sejuk,” ucap salah satu burung yang sedang berteduh. Mendengar ucapan itu, seorang Daun pun menyombongkan dirinya, “Tentu saja pohon ini rindang. Lihatlah aku dan saudara-saudaraku, hijau dan rimbun. Tanpa kami, pohon ini tidak ada apa-apanya.” “Pohon ini akan kering dan gersang bila tak ada kami. Karena itulah, kamu harus berterima kasih padaku karena telah melindungi pohon ini sehingga jadi hijau dan menyejukkan,” ucap Daun pada burung. “Umm, benar katamu, Daun. Tapi, kamu tak seharusnya menyombongkan diri. Aku yakin tanpa Akar, dirimu tak akan bisa sehijau ini,” ucap burung sambil terbang meninggalkan pohon itu. “Akar? Akar kan di dalam tanah. Mana mungkin ia berperan penting dalam menghijaukan pohon ini. Dasar burung tak tak tahu terima kasih,” ucap Daun. Usaha dan Kerja Keras yang Tak Nampak “Apa yang burung tadi katakan benar, Daun muda. Aku tahu, kamu ada di atas dan menyejukkan pohon, tapi tanpaku, kamu tak akan bisa bertahan segar. Kau tak boleh sombong,” kata suara di dalam tanah. “Suara siapa itu?” tanya Daun merasa bingung. “Ini aku, Akar. Kamu tak akan bisa melihatku, karena aku berada di dalam tanah,” jawab suara itu. “Hmm, apa yang kau lakukan di dalam tanah? Dan apa maksudmu kalau aku tak bisa hidup tanpa kamu?” tanya Daun penasaran. “Aku berada di bawah tanah untuk mencari air untukmu. Sehingga, kamu bisa tetap segar dan sejuk. Kami memang tinggal di dalam tanah yang kotor, tapi saat kami sangatlah kuat. Saat musim berganti, kami tetap bertahan. Kalau aku tak bertahan, pohon ini akan mati, begitu pun dengan dirimu,” ucap Akar menasehati Daun. Daun itu terdiam mendengar nasihat dari Akar. Ia sadar selama ini Akar telah berjasa banyak untuk pohon ini dan dirinya. “Akar, aku minta maaf karena telah sombong. Aku tak tahu bila tanpamu, pohon ini dan aku akan mati,” ucap Daun menyesal. “Tak mengapa, Daun. Aku hanya ingin kau tidak sombong,” ucap Akar. Mereka pun bersahabat dengan baik dan kerap mengobrol. Pohon itu pun semakin hari semakin tampak rimbun dan rindang sehingga banyak hewan-hewan yang berdatangan. Baca juga Kisah tentang Si Kelingking Asal Jambi dan Ulasan Lengkapnya, Pelajaran untuk Tidak Meremehkan Penampilan Fisik Seseorang Unsur Intrinsik Usai membaca dongeng anak Akar dan Daun yang sombong. Mungkin, kamu jadi penasaran dengan unsur intrinsiknya. Nah, daripada penasaran, mending kamu langsung saja baca ulasan singkatnya di artikel ini; 1. Tema Tema atau inti cerita dongeng anak tentang Akar dan Daun adalah tentang kesombongan. Daun merasa dirinyalah yang paling berjasa dalam membuat pohon menjadi rimbun dan rindang. Padahal, rimbunnya pohon dan hijaunya daun tak lepas dari kerja keras akar yang mencari air untuk mereka bertahan hidup. 2. Tokoh dan Perwatakan Ada dua tokoh utama dalam dongeng ini, yaitu Akar dan Daun. Tokoh antagonisnya adalah Daun. Ia memiliki sifat yang sombong. Sementara akar memiliki sifat bijaksana dan pemaaf. Meski selama ini berjasa besar dalam membuat pohon menjadi rindang, ia tak pernah menyombongkan dirinya. Ia juga dengan mudah memaafkan Daun yang selama ini sombong dan tak menganggapnya ada. 3. Latar Ada dua latar tempat yang digunakan cerita dongeng ini, yaitu di sebuah padang rumput dan di dalam tanah tempat akar berada. Sementara setting waktu yang digunakan adalah pagi dan siang. 4. Alur Cerita dongeng anak Akar dan Daun memiliki alur maju atau progresif. Cerita berawal dari seekor burung yang merasa senang saat sedang bertengger di sebuah pohon rimbun. Lalu, Daun yang sombong dari pohon itu berkata bila dirinyalah yang membuat pohon tersebut tampak rindang dan menyejukkan. Kesal dengan kesombongan Daun, Burung pun mengatakan kalau pohon yang rindang itu karena kerja keras dari akar. Setelah burung pergi, dari dalam tanah, Akar berkata bila perkataan burung tersebut memang benar. Selama ini, dirinyalah yang berjuang mencari air agar pohon dapat tumbuh dengan baik. Tanpa air yang ia dapatkan, bisa saja pohon dan daun tak bisa hidup dengan segar. Daun lalu meyadari tak seharusnya ia bersikap sombong. Kehebatannya tak sebanding dengan perjuangan akar yang selama ini mencari air agar pohon tetap hidup. Lalu, ia pun meminta maaf dan berterima kasih pada akar karena selama ini ia telah bekerja keras. 5. Pesan Moral Apa sajakah pesan moral yang terkandung dalam cerita dongeng anak Daun dan Akar ini? Pertama, jangan jadi orang yang sombong. Ingatlah pepatah di atas langit masih ada langit. Ketika kamu merasa hebat atau pandai, masih ada orang lain yang lebih hebat atau pandai darimu. Lalu, jadilah seperti Akar yang bijak dan tak banyak bicara. Meski selama ini bekerja keras untuk mendapatkan air, ia tak pernah berkoar-koar dan menyombongkan dirinya. Tak hanya bijak, Akar juga pemaaf. Ia dengan mudah memaafkan Daun yang selama ini tak menganggap usaha dan kerja kerasanya. Selain unsur instrinsik, cerita dongeng ini juga memiliki unsur ekstrinsik. Di antara unsur ekstrinsiknya adalah nilai ketuhanan, sosial, budaya, dan moral dari lingkungan di sekitar. Baca juga Cerita Rakyat Asal-Usul Kota Pandeglang dan Ulasan Lengkapnya, Sebuah Pelajaran Untuk Tidak Serakah dan Iri Hati Fakta Menarik Nah, sebelum mengakhiri artikel ini, ada baiknya kamu membaca fakta menariknya dulu. Apa sajakah itu? Berikut ulasan singkatnya; 1. Diadaptasi Dari Dongeng Aesop Potret Aesop Sumber Wikimedia Commons Mungkin kamu masih belum familier dengan Aesop. Ia adalah pengarang cerita yang berasal dari Yunani. Ceritanya terkenal penuh dengan pelajaran tentang kehidupan, seperti contohnya dongeng anak Akar dan Daun ini. Dongeng lain yang tak kalah populer karya Aesop adalah Kelinci dan Kura-Kura, Serigala dan Domba Muda, Singa dan Tikus, serta masih banyak lagi. Kamu tentu sudah familier dengan cerita-cerita tersebut, kan? 2. Banyak Tayangan Animasi yang Mengangkat Kisah Ini Karena memiliki kisah yang menarik dan sarat akan pesan moral, banyak video animasi yang mengangkat dongeng ini. Kamu bisa melihatnya langsung di youtube. Dengan animasi yang menarik, pasti akan sangat disukai oleh anak-anak. Baca juga Legenda Rangkayo Hitam dan Ulasan Lengkapnya, Kisah Seorang Raja yang Memperjuangkan Kesejahteraan Kerajaan Jambi Bagikan Dongeng Anak Akar dan Daun ke Teman-Temanmu Demikianlah cerita dongeng anak Akar dan Daun beserta ulasan lengkap seputar unsur intrinsik, pesan moral, dan fakta menariknya. Kamu suka dengan dongeng ini? Kalau suka, bagikan dongeng ini ke teman-temanmu, ya! Teruntuk yang pengen baca dongeng lainnya, langsung saja kepoin kanal Ruang Pena. Kalau pengen baca cerita rakyat Nusantara, tenang saja, kami punya beberapa kisahnya. Beberapa di antaranya adalah legenda Putri Pinang Masak dari Jambi, cerita rakyat Hantuen dari Kalimantan Tengah, kisah Tambun Bungai dari Dayak, dan masih banyak lagi. Selamat membaca! PenulisRinta NarizaRinta Nariza, lulusan Universitas Kristen Satya Wacana jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, tapi kurang berbakat menjadi seorang guru. Baginya, menulis bukan sekadar hobi tapi upaya untuk melawan lupa. Penikmat film horor dan drama Asia, serta suka mengaitkan sifat orang dengan zodiaknya. EditorKhonita FitriSeorang penulis dan editor lulusan Universitas Diponegoro jurusan Bahasa Inggris. Passion terbesarnya adalah mempelajari berbagai bahasa asing. Selain bahasa, ambivert yang memiliki prinsip hidup "When there is a will, there's a way" untuk menikmati "hidangan" yang disuguhkan kehidupan ini juga menyukai musik instrumental, buku, genre thriller, dan misteri.

dongeng pohon mangga dan pohon ara